Monthly Archives: June 2017

Tan Joe Hok Berpesan Untuk Timnas Bulutangkis Di Tengah Isu Intoleransi

Published / by templehealth

Tan Joe Hok menceritakan mengenai pengalaman yang dialaminya saat kejadian introleransi merebak di Indonesia pada beberapa waktu lalu, G3S/PKI dan kerusuhan 1998.

Berita mengenai masalah intoleransi kembali mencuat belakangan ini. Hal itu turut menyita perhatian banyak orang, termasuk Tan Joe Hok. Tan Joe Hok merupakan salah satu dari enam pebulu tangkis yang berhasil merebut Piala Thomas untuk pertama kalinya. Di tengah isu yang membuat resah tersebut, sang legenda bulutangkis berharap agar para tim nasional taruhan bola tetap berlatih keras, tanpa adanya gangguan serupa yang dulu pernah dia alami, terkait kejadian yang berkaitan dengan intoleransi.

Tan Joe Hok Kenang Masa Sulit Akibat Masalah Intoleransi

Di sebuah hotel di Jakarta hari kamis 1 Mei 2017, saat menceritakan kisah pahit yang dialaminya, Tan Joe Hok sempat menangis. Peristiwa itu adalah G30S/PKI, yang terjadi tahun 1965 dan kerusuhan 1998. Kejadian tersebut sangat mengoyak ketegaran Tan Joe Hok. Pria yang tercatat dalam sejarah bulutangkis, karena menjadi putra Indonesia pertama yang menjuarai All England menceritakan kesulitan yang dialaminya untuk mengurus kewarganegaan seperti warga keturunan lainnya.

“Saat itu kondisi benar-benar sulit. Saya melihat api dimana-mana. Saat itu saya sudah ingin mengirim anak-anak ke luar Jakarta. Tapi jam dua malam sama sekali tak ada tiket,” ungkap Tan sambil menangis.

“Anak saya saat itu sampai berkata ingin kami berkumpul sekeluarga dan biarlah kami mati bersama-sama. Saya tak ingin hal itu terulang pada saat ini,” tambahnya.

Tak hanya sampai di situ saja, karena ternyata pria yang lahir di Bandung 11 Agustus 1937 itu sampai harus mengganti namanya. Padahal namanya telah terkenal di kancah Internasional. Nama barunya adalah Hendra Kartanegara setelah masa Orde Baru bergulir. Dan pada akhirnya, dia memutuskan untuk pindah ke Hong Kong dan Meksiko.

Tan Joe Hok Berharap Peristiwa Huru Hara Tak Terulang

Sebelum masalah intoleransi meletus, sebenarnya Tan Joe Hok telah menjadi kebanggaan tanah air, dengan menjadi juara All England untuk Indonesia di tahun 1959. Pada tahun sebelumnya, dia juga ikut diarak keliling Jakarta sebagai bagian tim Piala Thomas yang menyabet gelar juara kala itu.

“Setelah juara Piala Thomas itu, kami disambut dengan meriah di Istana Negara oleh Presiden Sukarno. Kami diarak keliling dari Hayam Wuruk sampai ke Bandung. Ini siapa (sembari menunjuk sebuah foto). Pak Karno dan di belakang beliau itu saya. Waktu itu, beliau bilang ‘kamu adalah pahlawan bangsa ini’,” ungkap pria yang saat ini berusia 79 tahun itu saat hadir bersama dengan Komunitas Bulutangkis Indonesia.

Tan Joe Hok tidak ingin kalau atlet yang telah mengharumkan nama bangsa dengan bertarung untuk Indonesia tidak memperoleh pengalaman yang sama dengannya. Dia berdoa, agar tim nasional di pelatnas Cipayung tetap dapat latihan yang maksimal demi mencapai prestasi di level Internasional seperti sebelum-sebelumnya.

“Bukan, saya tidak patah hati terhadap negara ini. Saya sedih, saya miris kalau sampai peristiwa serupa terulang lagi. Jangan sampai intoleransi ini menjadi peristiwa huru hara,” terang pria jebolan Universitas Baylor, Texas, Amerika Serikat.

“Mereka (para pemain pelatnas Cipayung) tidak tersentuh. Anggap saja mereka (orang-orang yang melakukan tindakan intoleransi) tidak tahu apa yang mereka lakukan. Bawa saja dalam doa agar mereka tidak mengganggu pelatihan supaya olahraga bulutangkis tetap berprestasi,” terang Tan.

“Para pemain toto online yang tergabung dalam Komunitas Bulutangkis Indonesia terus terang merasa terancam dengan kondisi kebangsaan saat ini. Kami mencermati adanya upaya dari sejumlah pihak yang ingin memecah belah negara dan bangsa Indonesia dengan menggunakan isu suku, agama, ras dan antargolongan (SARA),” kata Tan Joe Hok, merupakan legenda yang pernah menjadi juara Piala Thomas di tahun 1958.